Kesadahan air
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Perubahan tertunda ditampilkan di halaman iniBelum Diperiksa
Langsung ke: navigasi, cari
Broom icon.svg
Artikel ini perlu dirapikan agar memenuhi standar Wikipedia
Merapikan artikel bisa berupa membagi artikel ke dalam paragraf atau wikifikasi artikel. Setelah dirapikan, tolong hapus pesan ini.
Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan juga bisa merupakan ion logam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat. Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun. Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah, sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa. Cara yang lebih kompleks adalah melalui titrasi. Kesadahan air total dinyatakan dalam satuan ppm berat per volume (w/v) dari CaCO3.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun dapat membentuk gumpalan scum yang sukar dihilangkan. Dalam industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat untuk mencegah kerugian. Untuk menghilangkan kesadahan biasanya digunakan berbagai zat kimia, ataupun dengan menggunakan resin penukar ion
Air sadah digolongkan menjadi dua jenis, berdasarkan jenis anion yang diikat oleh kation (Ca2+ atau Mg2+), yaitu air sadah sementara dan air sadah tetap.
Air sadah sementara Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat (HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat (Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air yang mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+. Dengan jalan pemanasan senyawa-senyawa tersebut akan mengendap pada dasar ketel. Reaksi yang terjadi adalah : Ca(HCO3)2 (aq) –> CaCO3 (s) + H2O (l) + CO2 (g)
Air sadah tetap Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2), kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat (Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa dihilangkan hanya dengan cara pemanasan. Untuk membebaskan air tersebut dari kesadahan, harus dilakukan dengan cara kimia, yaitu dengan mereaksikan air tersebut dengan zat-zat kimia tertentu. Pereaksi yang digunakan adalah larutan karbonat, yaitu Na2CO3 (aq) atau K2CO3 (aq). Penambahan larutan karbonat dimaksudkan untuk mengendapkan ion Ca2+ dan atau Mg2+. CaCl2 (aq) + Na2CO3 (aq) –> CaCO3 (s) + 2NaCl (aq) Mg(NO3)2 (aq) + K2CO3 (aq) –> MgCO3 (s) + 2KNO3 (aq) Dengan terbentuknya endapan CaCO3 atau MgCO3 berarti air tersebut telah terbebas dari ion Ca2+ atau Mg2+ atau dengan kata lain air tersebut telah terbebas dari kesadahan.
Pada industri yang menggunakan ketel uap, air yang digunakan harus terbebas dari kesadahan. Proses penghilangan kesadahan air yang sering dilakukan pada industri-industri adalah melalui penyaringan dengan menggunakan zat-zat sebagai berikut :
Resin pengikat kation dan anion. Resin adalah zat polimer alami ataupun sintetik yang salah satu fungsinya adalah dapat mengikat kation dan anion tertentu. Secara teknis, air sadah dilewatkan melalui suatu wadah yang berisi resin pengikat kation dan anion, sehingga diharapkan kation Ca2+ dan Mg2+ dapat diikat resin. Dengan demikian, air tersebut akan terbebas dari kesadahan.
Zeolit memiliki rumus kimia Na2(Al2SiO3O10).2H2O atau K2(Al2SiO3O10).2H2O. zeolit mempunyai struktur tiga dimensi yang memiliki pori-pori yang dapat dikewati air. Ion Ca2+ dan Mg2+ akan ditukar dengan ion Na+ dan K+ dari zeolit, sehingga air tersebut terbebas dari kesadahan.
Cara paling mudah untuk mengetahui air yang selalu anda gunakan adalah air sadar atau bukan dengan menggunakan sabun. Ketika air yang anda gunakan adalah air sadah, maka sabun akan sukar berbiuh, kalaupun berbuih, berbuihnya sedikit. Kemudian untuk mengetahui jenis kesadahan air adalah dengan pemanasan. Jika ternyata setelah dilakukan pemanasan, sabun tetap sukar berbuih, berarti air yang anda gunakan adalah air sadah tetap.
Untuk menghilangkan kesadahan sementara ataupun kesadahan tetap pada air yang anda gunakan di rumah dapat dilakukan dengan menggunakan zeolit. Anda cukup menyediakan tong yang dapat menampung zeolit. Pada dasar tong sudah dibuat keran. Air yang akan anda gunakan dilewatkan pada zeolit terlebih dahulu. Air yang telah dilewatkan pada zeolit dapat anda gunakan untuk keperluan rumah tangga, spserti mencuci, mandi dan keperluan masak.
Zeolit memiliki kapasitas untuk menukar ion, artinya anda tidak dapat menggunakan zeolit yang sama selamanya. Sehingga pada rentang waktu tertentu anda harus menggantinya.
Diperoleh dari "http://id.wikipedia.org/wiki/Kesadahan_air"
Kategori: Air
Kategori tersembunyi: Artikel yang belum dirapikan Agustus 2010
Peralatan pribadi
* Fitur baru
* Masuk log / buat akun
Ruang nama
* Halaman
* Diskusi
Varian
Tampilan
* Baca
* Sunting
* Versi terdahulu
Tindakan
* ↑
Cari
Cari
Navigasi
* Halaman Utama
* Perubahan terbaru
* Peristiwa terkini
* Halaman sembarang
Komunitas
* Warung Kopi
* Portal komunitas
* Bantuan
Wikipedia
* Tentang Wikipedia
* Pancapilar
* Kebijakan
* Menyumbang
Cetak/ekspor
* Buat buku
* Unduh sebagai PDF
* Versi cetak
Kotak peralatan
* Pranala balik
* Perubahan terkait
* Halaman istimewa
* Pranala permanen
* Kutip halaman ini
Bahasa lain
* Български
* Bosanski
* Català
* Česky
* Dansk
* Deutsch
* English
* Esperanto
* Español
* Eesti
* فارسی
* Suomi
* Français
* עברית
* हिन्दी
* Magyar
* Italiano
* 日本語
* Lietuvių
* Nederlands
* Norsk (bokmål)
* Polski
* Português
* Română
* Русский
* සිංහල
* Simple English
* Svenska
* Українська
* Tiếng Việt
* 中文
* Halaman ini terakhir diubah pada 09:06, 28 Agustus 2010.
* Teks tersedia di bawah Lisensi Atribusi/Berbagi Serupa Creative Commons; ketentuan tambahan mungkin berlaku. Lihat Ketentuan Penggunaan untuk lebih jelasnya.
Halaman
danaprofit
Mau Profit Hari Ini Juga?
www.danaprofit.comDapatkan profit 12% per hari, mulaiAnda memberi ini +1 secara publik. Urungkan
hari ini juga. Kesempatan Terbatas!
Minggu, 29 Agustus 2010
Daur Ulang Limbah Organik
Daur Ulang Limbah Organik dengan Teknologi Effective Microorganisms
oleh: stego
Pengarang : Dr. Ir G.N Wididana
* Summary rating: 2 stars (40 Tinjauan)
* Kunjungan : 3165
* kata:900
*
More About : limbah dan daur ulang limbah
Pencemaran lingkungan perkotaan salah satunya disebabkan oleh limbah organik yang tidak terurai sempurna sehinggga menyebarkan bau busuk ,gas beracun, hama dan penyakit. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan biaya yang tidak sedikit antara lain : biaya pengolahan, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya sarana dan prasarana dan juga biaya untuk tenaga konsultan yang sangat memusingkan bagi pemerintah setempat.
Semakin padat pemukiman suatu tempat, akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan yang berakibat pada semakin tinggi pencemaran lingkungan di tempat itu.
Mengingat presentasi limbah organik yang tinggi dari seluruh sampah yang dihasilkan yaitu kira-kira 70 % dari keseluruhan , maka pada tulisan ini terfokus pada penanganan limbah organik.
Setiap harinya ribuan ton bahan organik yang merupakan bahan pangan yang dikirim ke kota yang berasal dari daerah pertanian untuk dikonsumsi masyarakat kota. Penggunaan bahan organik tersebut menghasilkan limbah berupa, tinja , air kotor, limbah rumah tangga dan limbah kota yang terus ditumpuk di suatu tempat yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ). Dengan ini diusulkan suatu teknologi untuk mendaur ulang limbah tersebut. Dalam hal ini teknologi yang diusulkan adalah teknologi effective microoragnisms ( EM ).
Di daerah pertanian, justru terjadi kekurangan bahan organik karena sebagian besar sudah dikirim ke kota, Bahan organik yang tersisa cenderung dimanfatkan sebagai sumber energi untuk dapur, industri rumah batu bata dan industri rumah tangga lainnya.
Di sentra peternakan, limbah organik berupa kotoran ternak diupayakan untuk dijual secepatnya dengan harga murah ke daerah pertanian yang membutuhkan pupuk organik Sedikit sekali nilai tambah yang diperoleh peternak dari limbah tersebut. Semua ini terjadi karena petani dan peternak belum memanfaatkan teknolgi pengolahan limbah tersebut.
Limbah organik berasal dari beberapa sumber yaitu anatara lain : dapur/rumah tangga, pasar, rumah/sakit, perumahan, pertokoan / perkantoran, hotel / restoran, pertanian, peternakan / rumah potong, pengolahan hasil pertanian / peternakan dan sampah kota.
Selama ini metode yang digunakan untuk mengolah aneka limbah oganik tersebut adalah dengan cara membusukkan limbah tersebut untuk mendapatkan kompos. Pada proses ini, akan ada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas ( hidrogen sulfida, amonia merkaptan dan gas beracun lainnya ). Polusi yang terjadi mencakup udara, tanah dan air yang terjadi dari proses pembusukan bahan organik, karena aktifitas dari mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia seperti : Salmonella, Escherischia coli dll. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelepasan ion negatif dari proses pembusukan yang membentuk gas-gas dan senyawa beracun.
Proses pembusukan organik berlangsung 2 – 3 bulan. Proses ini bisa berlangsung lebih lambat karena penambahan bahan organik secara terus menerus serta tidak adanya peran mikroorganisme fermentasi. Itulah sebabnya mengapa di tempat pembuangan gas busuk secara terus menerus dihasilkan dalam radius 5 km
Cara yang umum digunakan di perkotaan sekarang ini adalah dengan cara menumpuk sampah sampai dengan ketebalan ketebalan tertentu kemudian diurug dengan tanah yang biasa disebut dengan land fill system Cara ini pertama kali dikembangkan oleh Depatemen Kesehatan Amerika Serikat dan sampai sekarang masih dilakukan.
Metode land fill system sampai saat ini masih merupakan cara yang diunggulkan, sekalipun hanya dapat mengurangi bau kurang dari 40 %. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruang.
Penguraian limbah organik melalui proses fermentasi adalah cara yang tepat untuk dapat mengatasi masalah bau, dan masalah-masaah lingkungan seperti polusi udara, air dan tanah . Pada proses ini aroma yang tercium adalah asam manis bau khas fermentasi.
Teknologi fermentsi bahan organik yang diperkenalkan di sini adalah Teknologi Effective Microorganisms ( EM ) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu Jepang. Teknologi ini mengembangkan 80 jenis mikroorganisme yang bermanfaat untuk memfermentasikan bahan organik serta menggunakan panas dan gas hasil dari proses pembusukan sebagai sumber energi.
Proses fermentasi mulai berlangsung dengan cara yang sederhana, diinokulasikan dengan cara disemprotkan ke bahan organik atau tumpukan sampah tersebut dan disemprotkan Dalam proses ini, pembentukan gas (bau busuk ) dan panas dapat ditekan atau dihilangkan sama sekali.
Manfaat langsung dari proses ini adalah : berkurangnya bau busuk dan panas; berkurangnya hama seperti lalat dan penyakit yang ditimbulkan; tumpukan sampah cepat berkurang, sehingga daya tampung sampah dalm lubang dapat bertambah 30%; lapisan tanah urugan berkurang karena masalah bau teratasi; masalah lingkungan dan kesehatan pekerja dan pemulung dapat teratasi.
Fermentasi bahan organik terjadi bila bahan EM dinokulasikan ke dalam larutan gula dengan dosis 0.1-1% ke dalam tumpukan sampah setiap minggu sekali, dilakukan dengan cara menyemprot dengan mesin atau pompa.
Untuk memfermentasikan 1 ton limbah organik, diperlukan 1 liter EM dan 1 liter gula atau molas. Agar lebih hemat, dapat difermentasikan lebih dulu larutan molas dengan cara mencampurkan 1 liter EM dan 1 liter molas ke dalam 20 liter air kemudian tutup rapat dalam tangki selama 1 minggu. Larutan ini biasanya disebut Fermentasi Molas ( FM ). Fermentasi Molas dapat disemprotkan ke dalam tumpukan sampah dengan kelarutan 0.1 %
Idealnya pada tahap awal yaitu di tingkat rumah tangga, sudah dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik, dengan demikian proses fermentasi di Tempat Pembuangan Akhir lebih mudah dan proses berjalan sempurna. Untuk membudayakan kebiasaan masyarakat memilah-milah limbah organik ini, tentunya perlu proses panjang disamping itu perlu dipertegas lagi dengan peraturan dari pemerintah.
*
o Shvoong
o Apakah Shvoong itu?
o Peta situs
o Blog
o Hubungi Kami
o FAQ
*
o Writing
o Top Writers
o Top Earners
o Persetujuan pemakai
o Use our Content
o Write & earn
*
o Business info
o Link ke kami
o Pengiklan
o Afiliasi
o Profil Perusahaan
*
o selanjutnya
o Kutipan
o Laporan
o Pembuat ringkasan
o Today
*
o
o
oleh: stego
Pengarang : Dr. Ir G.N Wididana
* Summary rating: 2 stars (40 Tinjauan)
* Kunjungan : 3165
* kata:900
*
More About : limbah dan daur ulang limbah
Pencemaran lingkungan perkotaan salah satunya disebabkan oleh limbah organik yang tidak terurai sempurna sehinggga menyebarkan bau busuk ,gas beracun, hama dan penyakit. Untuk menanggulangi masalah ini, diperlukan biaya yang tidak sedikit antara lain : biaya pengolahan, biaya transportasi, biaya tenaga kerja, biaya sarana dan prasarana dan juga biaya untuk tenaga konsultan yang sangat memusingkan bagi pemerintah setempat.
Semakin padat pemukiman suatu tempat, akan semakin banyak pula sampah yang dihasilkan yang berakibat pada semakin tinggi pencemaran lingkungan di tempat itu.
Mengingat presentasi limbah organik yang tinggi dari seluruh sampah yang dihasilkan yaitu kira-kira 70 % dari keseluruhan , maka pada tulisan ini terfokus pada penanganan limbah organik.
Setiap harinya ribuan ton bahan organik yang merupakan bahan pangan yang dikirim ke kota yang berasal dari daerah pertanian untuk dikonsumsi masyarakat kota. Penggunaan bahan organik tersebut menghasilkan limbah berupa, tinja , air kotor, limbah rumah tangga dan limbah kota yang terus ditumpuk di suatu tempat yang biasa disebut Tempat Pembuangan Akhir ( TPA ). Dengan ini diusulkan suatu teknologi untuk mendaur ulang limbah tersebut. Dalam hal ini teknologi yang diusulkan adalah teknologi effective microoragnisms ( EM ).
Di daerah pertanian, justru terjadi kekurangan bahan organik karena sebagian besar sudah dikirim ke kota, Bahan organik yang tersisa cenderung dimanfatkan sebagai sumber energi untuk dapur, industri rumah batu bata dan industri rumah tangga lainnya.
Di sentra peternakan, limbah organik berupa kotoran ternak diupayakan untuk dijual secepatnya dengan harga murah ke daerah pertanian yang membutuhkan pupuk organik Sedikit sekali nilai tambah yang diperoleh peternak dari limbah tersebut. Semua ini terjadi karena petani dan peternak belum memanfaatkan teknolgi pengolahan limbah tersebut.
Limbah organik berasal dari beberapa sumber yaitu anatara lain : dapur/rumah tangga, pasar, rumah/sakit, perumahan, pertokoan / perkantoran, hotel / restoran, pertanian, peternakan / rumah potong, pengolahan hasil pertanian / peternakan dan sampah kota.
Selama ini metode yang digunakan untuk mengolah aneka limbah oganik tersebut adalah dengan cara membusukkan limbah tersebut untuk mendapatkan kompos. Pada proses ini, akan ada energi organik yang terbuang dalam bentuk panas dan gas ( hidrogen sulfida, amonia merkaptan dan gas beracun lainnya ). Polusi yang terjadi mencakup udara, tanah dan air yang terjadi dari proses pembusukan bahan organik, karena aktifitas dari mikroorganisme patogen yang berbahaya bagi hewan dan manusia seperti : Salmonella, Escherischia coli dll. Pencemaran secara kimia terjadi karena pelepasan ion negatif dari proses pembusukan yang membentuk gas-gas dan senyawa beracun.
Proses pembusukan organik berlangsung 2 – 3 bulan. Proses ini bisa berlangsung lebih lambat karena penambahan bahan organik secara terus menerus serta tidak adanya peran mikroorganisme fermentasi. Itulah sebabnya mengapa di tempat pembuangan gas busuk secara terus menerus dihasilkan dalam radius 5 km
Cara yang umum digunakan di perkotaan sekarang ini adalah dengan cara menumpuk sampah sampai dengan ketebalan ketebalan tertentu kemudian diurug dengan tanah yang biasa disebut dengan land fill system Cara ini pertama kali dikembangkan oleh Depatemen Kesehatan Amerika Serikat dan sampai sekarang masih dilakukan.
Metode land fill system sampai saat ini masih merupakan cara yang diunggulkan, sekalipun hanya dapat mengurangi bau kurang dari 40 %. Dan masalah ini tidak akan pernah tuntas mengingat bau adalah gas yang bersifat ringan dan segera mengisi ruang.
Penguraian limbah organik melalui proses fermentasi adalah cara yang tepat untuk dapat mengatasi masalah bau, dan masalah-masaah lingkungan seperti polusi udara, air dan tanah . Pada proses ini aroma yang tercium adalah asam manis bau khas fermentasi.
Teknologi fermentsi bahan organik yang diperkenalkan di sini adalah Teknologi Effective Microorganisms ( EM ) oleh Prof. Teruo Higa dari Universitas Ryukyu Jepang. Teknologi ini mengembangkan 80 jenis mikroorganisme yang bermanfaat untuk memfermentasikan bahan organik serta menggunakan panas dan gas hasil dari proses pembusukan sebagai sumber energi.
Proses fermentasi mulai berlangsung dengan cara yang sederhana, diinokulasikan dengan cara disemprotkan ke bahan organik atau tumpukan sampah tersebut dan disemprotkan Dalam proses ini, pembentukan gas (bau busuk ) dan panas dapat ditekan atau dihilangkan sama sekali.
Manfaat langsung dari proses ini adalah : berkurangnya bau busuk dan panas; berkurangnya hama seperti lalat dan penyakit yang ditimbulkan; tumpukan sampah cepat berkurang, sehingga daya tampung sampah dalm lubang dapat bertambah 30%; lapisan tanah urugan berkurang karena masalah bau teratasi; masalah lingkungan dan kesehatan pekerja dan pemulung dapat teratasi.
Fermentasi bahan organik terjadi bila bahan EM dinokulasikan ke dalam larutan gula dengan dosis 0.1-1% ke dalam tumpukan sampah setiap minggu sekali, dilakukan dengan cara menyemprot dengan mesin atau pompa.
Untuk memfermentasikan 1 ton limbah organik, diperlukan 1 liter EM dan 1 liter gula atau molas. Agar lebih hemat, dapat difermentasikan lebih dulu larutan molas dengan cara mencampurkan 1 liter EM dan 1 liter molas ke dalam 20 liter air kemudian tutup rapat dalam tangki selama 1 minggu. Larutan ini biasanya disebut Fermentasi Molas ( FM ). Fermentasi Molas dapat disemprotkan ke dalam tumpukan sampah dengan kelarutan 0.1 %
Idealnya pada tahap awal yaitu di tingkat rumah tangga, sudah dilakukan pemisahan sampah organik dan anorganik, dengan demikian proses fermentasi di Tempat Pembuangan Akhir lebih mudah dan proses berjalan sempurna. Untuk membudayakan kebiasaan masyarakat memilah-milah limbah organik ini, tentunya perlu proses panjang disamping itu perlu dipertegas lagi dengan peraturan dari pemerintah.
*
o Shvoong
o Apakah Shvoong itu?
o Peta situs
o Blog
o Hubungi Kami
o FAQ
*
o Writing
o Top Writers
o Top Earners
o Persetujuan pemakai
o Use our Content
o Write & earn
*
o Business info
o Link ke kami
o Pengiklan
o Afiliasi
o Profil Perusahaan
*
o selanjutnya
o Kutipan
o Laporan
o Pembuat ringkasan
o Today
*
o
o
Cara sederhana daur ulang limbah biodiesel
Kata Kunci: Amina, biodiesel, Daur ulang limbah, gliserol, limbah biodiesel
Ditulis oleh Masdin Mursaha pada 13-04-2009
face_00007Ilmuwan di Inggris telah berhasil mengonversi limbah biodiesel mentah menjadi amina-amina yang bermanfaat tanpa memerlukan teknik-teknik pemisahan yang sulit.
Gliserol dihasilkan dalam jumlah yang signifikan sebagai sebuah produk-sampingan dalam produksi biodiesel, sehingga menjadikannya sebagai bahan baku terbaharukan yang murah untuk industri kimia. Sebagai contoh, menggunakan proses mikroba untuk memfermentasi gliserol merupakan sebuah jalur yang menarik untuk mendapatkan 1,3-propanediol, yang bisa digunakan sebagai prekursor bagi polimer-polimer bernilai tinggi dan zat kimia platform. Akan tetapi, produk-produk fermentasi dihasilkan dalam larutan-larutan encer bersama dengan material sel dan produk-produk metabolik lain, sehingga menjadikan proses pemurnian dan pemisahan sulit.
Sekarang ini, sebuah tim ilmuwan, yang dipimpin oleh Andrew Marr di Queen’s University Belfast dan Gillian Stephens di University of Manchester, telah menggabungkan proses mikroba dengan proses terkatalisis logam transisi untuk menghasilkan amina-amina sekunder tanpa harus mengisolasi dan memurnikan senyawa intermediet diol.
Marr dan Stephens memperlakukan gliserol dengan bakteri Clostridium butyricum, kemudian melakukan sentrifugasi terhadap campuran bakteri, 1,3-propanediol, dan produk sampingan untuk menghilangkan sel-sel. Tim ini kemudian menambahkan larutan katalis iridium, basa dan anilin dalam toluena ke dalam larutan, menghasilkan campuran bifase. Setelah 24 jam pada suhu 115oC, 20 persen 1,3-propanediol telah dikonversi menjadi amina sekunder.
“Karena bahan bakar fosil cukup langka, para kimiawan perlu mulai mengembangkan metode-metode baru untuk mengonversi bahan-baku terbaharukan menjadi produk-produk kimiawi dan material-material yang diinginkan masyarakat,” kata Marr. “Kemajuan kunci yang kami miliki adalah memadukan proses-proses biokatalitik dan kemokatalitik untuk menghindari pemisahan produk-produk fermentasi.”
“Ini merupakan sebuah contoh penting tentang penambahan nilai bagi sumber-sumber daya terbaharukan,” kata Mark Harmer, seorang mahasiswa doktoral di DuPont, Delaware, US. “Kemampuan untuk menggunakan semua komponen dari bahan-baku terbaharukan akan menjadi hal kunci untuk mengembangkan sebuah biorefinery untuk menggantikan refinery berbasis minyak yang ada sekarang.”
body_00007
Gliserol limbah diperlakukan dengan Clostridium butyricum lalu dengan katalis iridium, sebuah basa dan anilin untuk menghasilkan amina-amina sekunder.
Stephens setuju: “Pendekatan baru ini akan memungkinkan diperolehnya banyak produk kimia dari satu campuran fermentasi tunggal. Sejauh yang kami ketahui, ini merupakan kali pertama dimana pendekatan one-pot telah diaplikasikan dengan menggunakan produk-porduk dari sel-sel mikroba utuh. Pendekatan ini harus menyeluruh, karena sifat-sifat kimianya bisa dirubah dengan mengganti fase non-cair dengan sebuah reaktan alternatif dan campuran katalis. Sifat mikrobiologi juga bisa berubah, sehingga memungkinkan konversi berbagai bahan-baku menjadi beragam produk fermentasi.”
Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut:
Ditulis oleh Masdin Mursaha pada 13-04-2009
face_00007Ilmuwan di Inggris telah berhasil mengonversi limbah biodiesel mentah menjadi amina-amina yang bermanfaat tanpa memerlukan teknik-teknik pemisahan yang sulit.
Gliserol dihasilkan dalam jumlah yang signifikan sebagai sebuah produk-sampingan dalam produksi biodiesel, sehingga menjadikannya sebagai bahan baku terbaharukan yang murah untuk industri kimia. Sebagai contoh, menggunakan proses mikroba untuk memfermentasi gliserol merupakan sebuah jalur yang menarik untuk mendapatkan 1,3-propanediol, yang bisa digunakan sebagai prekursor bagi polimer-polimer bernilai tinggi dan zat kimia platform. Akan tetapi, produk-produk fermentasi dihasilkan dalam larutan-larutan encer bersama dengan material sel dan produk-produk metabolik lain, sehingga menjadikan proses pemurnian dan pemisahan sulit.
Sekarang ini, sebuah tim ilmuwan, yang dipimpin oleh Andrew Marr di Queen’s University Belfast dan Gillian Stephens di University of Manchester, telah menggabungkan proses mikroba dengan proses terkatalisis logam transisi untuk menghasilkan amina-amina sekunder tanpa harus mengisolasi dan memurnikan senyawa intermediet diol.
Marr dan Stephens memperlakukan gliserol dengan bakteri Clostridium butyricum, kemudian melakukan sentrifugasi terhadap campuran bakteri, 1,3-propanediol, dan produk sampingan untuk menghilangkan sel-sel. Tim ini kemudian menambahkan larutan katalis iridium, basa dan anilin dalam toluena ke dalam larutan, menghasilkan campuran bifase. Setelah 24 jam pada suhu 115oC, 20 persen 1,3-propanediol telah dikonversi menjadi amina sekunder.
“Karena bahan bakar fosil cukup langka, para kimiawan perlu mulai mengembangkan metode-metode baru untuk mengonversi bahan-baku terbaharukan menjadi produk-produk kimiawi dan material-material yang diinginkan masyarakat,” kata Marr. “Kemajuan kunci yang kami miliki adalah memadukan proses-proses biokatalitik dan kemokatalitik untuk menghindari pemisahan produk-produk fermentasi.”
“Ini merupakan sebuah contoh penting tentang penambahan nilai bagi sumber-sumber daya terbaharukan,” kata Mark Harmer, seorang mahasiswa doktoral di DuPont, Delaware, US. “Kemampuan untuk menggunakan semua komponen dari bahan-baku terbaharukan akan menjadi hal kunci untuk mengembangkan sebuah biorefinery untuk menggantikan refinery berbasis minyak yang ada sekarang.”
body_00007
Gliserol limbah diperlakukan dengan Clostridium butyricum lalu dengan katalis iridium, sebuah basa dan anilin untuk menghasilkan amina-amina sekunder.
Stephens setuju: “Pendekatan baru ini akan memungkinkan diperolehnya banyak produk kimia dari satu campuran fermentasi tunggal. Sejauh yang kami ketahui, ini merupakan kali pertama dimana pendekatan one-pot telah diaplikasikan dengan menggunakan produk-porduk dari sel-sel mikroba utuh. Pendekatan ini harus menyeluruh, karena sifat-sifat kimianya bisa dirubah dengan mengganti fase non-cair dengan sebuah reaktan alternatif dan campuran katalis. Sifat mikrobiologi juga bisa berubah, sehingga memungkinkan konversi berbagai bahan-baku menjadi beragam produk fermentasi.”
Anda dapat menggunakan tag XHTML berikut:
« Elektron Dalam Atom
Secangkir Teh Dapat Mencegah Resiko Serangan Jantung »
Mitra dan Media
*
Tentang Artikel Ini:
o Penulis: Masdin Mursaha
*
Artikel Terkait:
o Industri Biodiesel
o Pembuatan Alkohol Dalam Skala Produksi
o Dari Lemak ke Bahan Bakar
o Bio-petroleum dari gula
o Seberapa banyak arsenik yang anda minum?
* Populer
* Terbaru
* Komentar
* Tag
* Adakah Obat untuk HIV/AIDS Saat Ini? Dengan 466 Komentar Sejak 2005-07-11 00:00:00
* Kimia MIPA vs. Teknik Kimia, Yang Mana? Dengan 190 Komentar Sejak 2006-03-23 00:00:00
* Cerpen Kimia : Catatan Harian Natrium Dengan 119 Komentar Sejak 2009-04-12 18:00:40
* Cerpen Kimia : Arsen Si Pembunuh Bayaran Dengan 108 Komentar Sejak 2009-06-21 10:45:44
* Tahun 2011 dinobatkan sebagai Tahun Internasional Kimia 2011 Dengan 88 Komentar Sejak 2009-03-19 10:00:00
* Pemisahan Koloid Dengan 0 Komentar Sejak 2010-08-29 14:01:56
* Apakah benar kalau gigi dapat diputihkan dengan mengelap menggunakan air jeruk perasan? Dengan 3 Komentar Sejak 2010-08-29 10:39:45
* Pembuatan Koloid Dengan 0 Komentar Sejak 2010-08-28 13:51:59
* Macam – Macam Koloid Dengan 0 Komentar Sejak 2010-08-27 15:49:33
* Spectroscopy infra merah membantu diagnosis kanker Dengan 0 Komentar Sejak 2010-08-27 13:00:29
* ardila: wah.. padahal aku suka buah jeruk....
* aprianto: yeah susah bngt soalnya...
* rukuan sujuda: minta cara yg lebih baik ya,, katanya dg penambah...
air DNA IChO kanker karbon logam lowongan kerja nobel kimia polimer protein
Berlangganan
Anda dapat berlangganan artikel melalui email:
Berlangganan melalui fasilitas RSS
RSS Artikel RSS Komentar
Menjadi Fans Chem-Is-Try.org
Chem-is-try.org - Situs Kimia Indonesia - on Facebook
Hak Cipta ©2008 Chem-Is-Try.Org | Situs Kimia Indonesia |. All rights reserved.
Pengawet Alami
Unsoed Kembangkan Pengawet Alami untuk Gula Merah
Jum'at, 13 Agustus 2010 | 16:40 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Industri rumah tangga, pembuatan gula merah tradisional. TEMPO/ Arie Basuki
TEMPO Interaktif, Purwokerto – Dosen Universitas Jenderal Soedirman menemukan formula pengawet alami untuk gula merah. Pengawet alami tersebut diyakini bisa meningkatkan kualitas gula merah.
“Selama ini hampir 90 persen perajin gula menggunakan pengawet sintetis yang berbahaya bagi kesehatan,” terang Karseno, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Jumat (13/8).
Karseno mengatakan, petani menggunakan bahan pengawet sintetis yang mengandung sulfit dan natrium metabisulfit. Zat tersebut bersifat toksik dan karsinogenik atau merupakan stimulan kanker.
Di pasaran, zat tersebut mudah didapatkan dan dijual dalam merk obat gula Cap Gajah. Karseno mengatakan, obat pengawet tersebut bisa didapatkan dengan mudah oleh perajin gula dengan harga Rp 6 ribu per kilogram. “Selain berbahaya bagi kesehatan, sulfit juga menurunkan kualitas gula. Pasar ekspor pasti akan menolak,” imbuhnya.
Berdasarkan fakta tersebut, kata Karseno, ia melakukan penelitian untuk membuat bahan pengawet alami yang bahannya mudah didapatkan di sentra-sentra perajin gula merah. Bahan alami tersebut diantaranya, daun sirih, buah manggis, kayu nangka, pohon sulatri dan sampan. “Bahan tersebut dicampur dengan rendaman kapur dengan takaran tertentu,” katanya.
Dengan bahan alami tersebut, imbuh Karseno, gula yang dihasilkan warnanya lebih cerah. Selain itu, tekstur gula menjadi keras dan padat. “Rasa juga manis, dan baik untuk kesehatan dan vitalitas pria,” imbuhnya.
Ia mengatakan, gula merah tersebut bisa diekspor karena memiliki kadar air rendah yakni sekitar empat persen. Ke depan, ia dan timnya berencana mengembangkan bahan pengawet tersebut agar bisa digunakan oleh seluruh perajin gula di Banyumas.
Kerseno menyebutkan, Banyumas merupakan penghasil tersbesar gula merah di Jawa Tengah. Beberapa sentra penghasil gula merah di Banyumas diantaranya Cilongok, Somagede, Baturraden dan Pekuncen.
Camat Cilongok, Fatikhul Ikhsan menyambut baik temuan Unsoed tersebut. “Apalagi daun sirih banyak ditemukan di sini,” katanya.
Ikhsan mengatakan, di Cilongok terdapat 150 ribu pohon kelapa. Satu pohon kelapa dalam sehari rata-rata menghasilkan 3 kilogram gula merah.
Ikhsan mengatakan, meskipun Cilongok menjadi sentra gula merah, namun nasib penderes gula masih jauh dari sejahtera. Setidaknya ada 10 ribu petani penderes gula merah dari total 117 ribu penduduk Kecamatan Cilongok.
ARIS ANDRIANTO
Nikmati berita dan informasi Ramadan di http://ramadan.tempointeraktif.com/ dan melalui ponsel anda di http://m.tempointeraktif.com/ramadan/
Copyright © 2010 TEMPOinteraktif
Jum'at, 13 Agustus 2010 | 16:40 WIB
Besar Kecil Normal
foto
Industri rumah tangga, pembuatan gula merah tradisional. TEMPO/ Arie Basuki
TEMPO Interaktif, Purwokerto – Dosen Universitas Jenderal Soedirman menemukan formula pengawet alami untuk gula merah. Pengawet alami tersebut diyakini bisa meningkatkan kualitas gula merah.
“Selama ini hampir 90 persen perajin gula menggunakan pengawet sintetis yang berbahaya bagi kesehatan,” terang Karseno, Dosen Ilmu dan Teknologi Pangan Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman, Jumat (13/8).
Karseno mengatakan, petani menggunakan bahan pengawet sintetis yang mengandung sulfit dan natrium metabisulfit. Zat tersebut bersifat toksik dan karsinogenik atau merupakan stimulan kanker.
Di pasaran, zat tersebut mudah didapatkan dan dijual dalam merk obat gula Cap Gajah. Karseno mengatakan, obat pengawet tersebut bisa didapatkan dengan mudah oleh perajin gula dengan harga Rp 6 ribu per kilogram. “Selain berbahaya bagi kesehatan, sulfit juga menurunkan kualitas gula. Pasar ekspor pasti akan menolak,” imbuhnya.
Berdasarkan fakta tersebut, kata Karseno, ia melakukan penelitian untuk membuat bahan pengawet alami yang bahannya mudah didapatkan di sentra-sentra perajin gula merah. Bahan alami tersebut diantaranya, daun sirih, buah manggis, kayu nangka, pohon sulatri dan sampan. “Bahan tersebut dicampur dengan rendaman kapur dengan takaran tertentu,” katanya.
Dengan bahan alami tersebut, imbuh Karseno, gula yang dihasilkan warnanya lebih cerah. Selain itu, tekstur gula menjadi keras dan padat. “Rasa juga manis, dan baik untuk kesehatan dan vitalitas pria,” imbuhnya.
Ia mengatakan, gula merah tersebut bisa diekspor karena memiliki kadar air rendah yakni sekitar empat persen. Ke depan, ia dan timnya berencana mengembangkan bahan pengawet tersebut agar bisa digunakan oleh seluruh perajin gula di Banyumas.
Kerseno menyebutkan, Banyumas merupakan penghasil tersbesar gula merah di Jawa Tengah. Beberapa sentra penghasil gula merah di Banyumas diantaranya Cilongok, Somagede, Baturraden dan Pekuncen.
Camat Cilongok, Fatikhul Ikhsan menyambut baik temuan Unsoed tersebut. “Apalagi daun sirih banyak ditemukan di sini,” katanya.
Ikhsan mengatakan, di Cilongok terdapat 150 ribu pohon kelapa. Satu pohon kelapa dalam sehari rata-rata menghasilkan 3 kilogram gula merah.
Ikhsan mengatakan, meskipun Cilongok menjadi sentra gula merah, namun nasib penderes gula masih jauh dari sejahtera. Setidaknya ada 10 ribu petani penderes gula merah dari total 117 ribu penduduk Kecamatan Cilongok.
ARIS ANDRIANTO
Nikmati berita dan informasi Ramadan di http://ramadan.tempointeraktif.com/ dan melalui ponsel anda di http://m.tempointeraktif.com/ramadan/
Copyright © 2010 TEMPOinteraktif
Langganan:
Komentar (Atom)